Apa itu Database Biometrik ? Apa Gunanya untuk Kependudukan?
Database berisi data-data biometrik. Data biometrik adalah data/image yang mendeskripsikan karakteristik sebuah bagian tubuh manusia yang unik. Contoh : Sidik jari, bentuk wajah, dan iris. Gunanya untuk IDENTIFIKASI dan VERIFIKASI IDENTITAS PENDUDUK. Jika iris mata atau sidik jari menjadi ‘kartu identitas’ Anda, saya pikir akan sulit untuk memalsukan atau menggandakannya.
Tapi di Indonesia??
Justru kita di Indonesia sangat membutuhkan sistem ini :
- Tingkat kepercayaan terhadap DOKUMEN IDENTITAS sangat rendah. Contoh : AKTA KELAHIRAN adalah dokumen yang paling ’sakral’, yang MENDASARI PENERBITAN SEMUA DOKUMEN IDENTITAS (di Eropa dokumen ini paling ketat penerbitannya dan tidak bisa dirubah-rubah lagi setelah terbit), Seberapa yakin Anda dengan Akta kelahiran seseorang? Adakah orang yang ‘dilahirkan dua kali’ untuk kepentingan politik?
- TERTIB ADMINISTRASI di sisi petugas maupun penduduk sangat sulit ditegakkan. Anda bisa saja membuat KTP tanpa melengkapi persyaratannya, sehingga peluang Anda untuk mempunyai lebih dari satu identitas (= dihitung sebagai lebih dari satu orang) cukup besar.
- Penduduk yang banyak dan lokasi geografis yang terpisah-pisah. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam mengontrol kegiatan administrasi kependudukan dan memverifikasi kebenaran identitas penduduk.
catatan tambahan : Menarik untuk kita perhatikan bahwa isu-isu identitas dan administrasi kependudukan di Indonesia adalah isu politik (pilpres, pilkada), bandingkan dengan di Amerika yang melihat isu ini sebagai isu keamanan dan pelayanan publik,
Mungkinkah Kita Implementasikan Sistem Ini, Mengingat Situasi Keuangan dan Politik di Indonesia?
Keuangan? Ayolah, hampir semua komputer jinjing pribadi sekarang punya perangkat identifikasi sidik jari ! Memang tidak sesederhana itu, sistem identifikasi yang berskala besar dan reliable akan berharga jauh lebih mahal, tapi lihat dana pemilu yang 200 Trilyun? Kita tidak semiskin itu.
Situasi politik mungkin yang akan menghambat. Pengembangan sistem ini memerlukan komitmen jangka panjang yang tidak bisa langsung sukses, karena banyak faktor teknis dan sosial yang perlu dikaji mendalam dan uji coba berkelanjutan (oleh karena itu harus kita kerjakan sendiri, tidak bisa diserahkan ke orang asing). Meyakinkan pemerintah bahwa kita butuh dan mampu mengimplementasikannya (dengan sumber daya sendiri), itulah yang sulit (seperti kebanyakan kasus dimana insinyur dan pemerintah ‘nggak nyambung’).
Bagus sih syid, tapi nggak murah. Memang udah banyak alat deteksi sidik jari di laptop, tapi kan data biometrik bukan cuma itu. Coba kalo kita bikin passport, kalo nggak salah biaya untuk data biometriknya mahal banget. Nggak semua orang sanggup buat bayarnya. Terus, penduduk indonesia udah terlampau banyak. Gw yakin, nggak semuanya bakal bisa terdata. Lihat aja kasus pembagian jatah beras. Toh masih banyak juga kan rakyat miskin yang tidak terdata.
Pendapat saya aj lo.
Regards.
Yth. Mas Rasyid,
Saya sependapat dan mendukung Anda. SIAK yang dikembangkan oleh Ditjen Adminduk Depdagri – katanya – juga akan menggunakan data biometrik, tetapi masih nanti. Saya punya pengalaman ngurusin pemulangan TKI bermasalah dari Malaysia, mereka dideportasi ke Indonesia tanpa satu ID-pun, karena paspornya ditahan majikan atau disita RELA (=Hansip di Indonesia). Mereka diindentifikasi oleh Perwakilan RI hanya berdasarkan wawancara dan pengakuannya dari daerah mana, kemudian dipulangkan ke daerah tersebut. Bagi yang punya paspor sesudah akhir 2007, mungkin ada data sidik jarinya di Imigrasi (sudah on-line), tapi bagi mereka yang sudah tahunan tinggal di Malaysia, masih belum ada datanya sehingga checking data kependudukannya jadi susah.
Mestinya, SIAK sudah harus pakai alat perekam sidik jari sebagaimana punya Imigrasi, harganya juga gak mahal amat, yang dikasih ke Jaksa dan Amin itu sudah dapat banyak. Masalahnya tinggal kemauan, atau mungkin pertimbangan politik seperti analisis Anda. Mari kita desak ramai-ramai.
Wassalam,
Parjoko Midjan
Setuju dengan mas rasyid,…
saya rasa kita mampu membangun data base biometrik,..
dan memang sangat dibutuhkan, karena kondisi geografis kita
terus terang saya ada pengalaman ga enak dengan KTP,..
harus bikin KTP berkali-kali pada saat kita pindah tempat tinggal
padahal kalo ada data terpusat yang dikelola secara langsung oleh naegara
mungkin hal itu gak perlu terjadi,…
khan tinggal update data aza,….
nomor KTP saya ganti2 terus,..
jadi pada saat verifikasi id ga bisa di pake
kacian Indonesia,..
Pemimpinnya ga melek teknologi
cuma bisa melek liat,……….
bagus mas…..saya bikin karya ilmiah yang kayak gitu, tapi judulnya masih binggung pa, intinya saya mau memberi masukan untuk mengembangkan penggunaan identifikasi penduduk dengan sidik jari yang salah satu tujuannya adalah untuk meminimalisasikan masalah DPT…coz saya empet liat para petinggi2 yang kagag mau nerima kekalahan n mempermasalahakan DPT….lo bisa ci, saya mau tanya2…begitu….
jadi bisa balas tulisan saya ni di email saya????