“Pada insiden Chernobyl 1986 (meledaknya reaktor nuklir di Chernobyl, Ukraina Utara), muncul kekhawatiran besar bahwa jumlah hewan di eropa akan menciut. Orang-orang Jerman dan austria, serta beberapa negara lainnya, divaksinasi untuk mencegah kematian akibat adanya radiasi. Sebagian pakar meramalkan ada 800.000 kanker baru yang menyerang manusia pada puluhan tahun mendatang. Penelitian-penelitian baru oleh PBB dan lembaga pemerintah AS kini mengungkapkan bahwa 56 orang meninggal dunia akibat sebab-sebab radiasi yang terkait dengan radiasi Chernobyl, 47 orang diantaranya adalah personel reaktor nuklir tersebut yang tewas akibat ledakan. Sekitar 4000 anak memang mengidap kanker tiroid, tapi hampir semuanya sembuh, hanya 9 anak yang meninggal dunia.” *
Di tahun terakhir kuliah, akhir-akhir ini, Saya cukup banyak belajar dan diajari untuk mengungkapkan sesuatu dengan angka-angka, dengan fakta. Kalau di dalam engineering ada yang namanya ‘Fuzzy Inference System’, yaitu teknik untuk mengkuantisasi (menjadi angka-angka) pengetahuan manusia yang kualitatif (‘besar’, ‘kecil’, ‘banyak’, ’sedikit’) sehingga dapat diimplementasikan di komputer (komputer tidak mengerti besaran kualitatif, kecuali kita beri batasan, misalnya : 80 adalah besar). Saya pikir ini juga berlaku di ilmu-ilmu sosial : Sebagian besar masyarakat Indonesia miskin, berapa banyak ’sebagian besar’ itu? 60%? Seberapa buruk ‘miskin’ itu?
Kita tidak terbiasa berbicara dengan angka-angka, dengan fakta.
Tidak hanya itu, kita juga terbiasa mempercayai orang yang berbicara tanpa angka-angka, tanpa fakta. Kemudian yang terjadi adalah kita membiarkan orang (termasuk kita sendiri) menciptakan angka-angka dalam pikirannya sendiri-sendiri sesuai persepsinya sendiri-sendiri (persepsi orang awam?). Cerita tentang insiden Chernobyl di atas mengingatkan Saya pada rencana pemerintah membangun PLTN Muria. Saya sempat membaca tentang ulama-ulama(?) yang ‘mengharamkan‘ PLTN. Apa yang Anda pikirkan mengenai hal ini?
Kabar buruk atau berita buruk (atau bad campaign?) sangat mudah untuk disebarkan dan akan berkembang dengan sendirinya, sepertinya itu sudah menjadi naluri manusia. Bukankah ini sangat tidak baik bagi kita semua? Saya sekarang mulai mencoba menilai sesuatu berdasarkan ‘SKOR’nya, lupakan bumbu-bumbunya (‘baik’, ‘jahat’, ‘banyak’, ’sedikit’, ‘enak’, ’sakit’, ‘nyaris’, ‘beruntung’). Seperti olahraga, yang penting skornya.
bagian ‘*’ dikutip dari buku Mind Set, John Naisbitt.
yap.. setuju banget gw..
orang sering menggunakan penilaian kualitatif untuk propaganda..
emang sih pake kualitatif jadi jauh lebih simpel karena tinggal bilang baik, buruk, sedikit, banyak, agak banyak, kecil, besar, atau apa lah.. ga usah pake angka2 yang (mungkin) ribet bagi orang awam..
tapi ini kan berbahaya, soalnya penilaian kualitatif kadang sangat subjektif dan berpotensi diputar balikkan..
bangsa qta merupakan bangsa PENDENGAR bukan PEMBACA..maka apabila ada org bpengaruh ngomong lebih dpercayai daripada mahasiswa intelektual.
ulama yang ‘mengharamkan‘ PLTN. ini menurut saya malah aneh. dalam kajian ushul fiqh juga ada. klo manfaatnya lebih besar kenapa harus haram. kan memang sudah ada angka/itung2annya.
Setuju dengan Mr/Ms/Mrs. Sibermedik : Bangsa PENDENGAR bukan PEMBACA. Jadi mudah terkagum-kagum dengan sesuatu, namun “ilmu”-nya nggak tahu. Nolak sesuatu namun “ilmu”-nya juga nggak tahu…
@Manik p.
tapi pernyataan saya tdk brlaku general..BACALAH sumber yg benar..DENGARLAH dari ahlinya..siapa lg kalo bkn dr SUMBER yg benar dan ahli..RASULULLAH SAW dan AL QURAN
@rizki
yang bener?
iyakah ulama melarang PLTN? kok gw baru tau ya…
btw, salam kenal semuanya…
baru dapet kuliah soal qualitative research..
sesuatu yg kualitatif itu data jg,fakta jg…bahkan bisa lebih akurat daripada data kuantitatif.
karena penentuan besaran data kuantitatif (terutama yg dikonversi dr data kualitatif) jg mengandung subjektivitas yg membuat/mengkonversi.
data kualitatif akan semakin akurat bila disajikan lengkap dan benar sehingga persepsi yg timbul di benak tiap orang g terlalu melenceng (mendekati)…
hmmm…cm mo memberikan pandangan lain soal “kualitatif” yg saat ini jd sering berkonotasi negatif.
salam